Desa

Kondisi Umum Desa
Oleh Madiah Dp

    a.    Keadaan Geografis Desa
    Letak dan Luas Wilayah
            Desa Alaskokon, berada di Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa    Timur merupakan 1 dari 17 desa di kecamatan Modung yang mempunyai jarak 16 Km dari
    Kecamatan Modung.
         Secara geografis Desa Alaskokon kondisinya termasuk daerah dataran tinggi. Luas             wilayah Desa Alaskokon 325,72 Ha dengan rincian sebagai berikut:
·                 Sawah tadah hujan                 : 0 Ha
·                 Tanah tegalan                         : 292,96 Ha
·                Bangunan/pekarangan           : 32,62 Ha
·                 Lain-lain                                  : 0,14 Ha
    Adapun batas-batas wilayah Desa Alaskokon sebagai berikut:

Letak
Desa
Kecamatan
Sebelah utara
Galis
Modung
Sebelah selatan
Kwanyar
Modung
Sebelah Barat
Tanah Merah
Modung
Sebelah Timur
Blega
Modung

  1. Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk
Jumlah penduduk Desa Alaskokon 3973, terdiri dari
  1. Laki-laki          : 1.970 jiwa
  2. Perempuan     : 2.003 jiwa
  3. Jumlah KK       : 766 KK

  1. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan masyarakat Desa Alaskokon sebagai berikut:
Pra Sekolah
Tidak Tamat SD
SD
SMP
SLTA
Sarjana
182
762
234
102
50
22

  1. Mata Pencahariaan
Karena desa Alaskokon merupakan desa pertanian, maka sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani.
Petani
Pedagang
PNS
Buruh
Jasa
774
99
5
136
228
  1. Pola Penggunaan Tanah
Penggunaan tanah di Desa Alaskokon sebagian besar dipergunakan untuk pertanian sawah, sedangkan sisanya untuk tanah kering yang merupakan bangunan dan fasilitas-fasilitas lainnya.

  1. Pemilikkan Ternak
Jumlah kepemilikkan hewan ternak oleh penduduk Desa Alaskokon sebagai berikut:
Ayam/itik
Kambing
Sapi
Kerbau
Lain-lain
1062
186
298
0
121

  1. Sarana dan Prasarana Desa
Kondisi sarana dan prasarana umum Desa Alaskokon sebagai berikut:
Balai Desa
Jalan Kab.
Jalan desa/aspal
Jalan desa/makadam
Jalan desa/tanah
Masjid
0
2,5 km
3,5 km
3 km
7 km
5

Sosial Budaya Desa Alaskokon
Oleh Madiah Dp

Agaknya perlu dikemukakan sedikit eksplorasi dan apologi agar tulisan “sederhana” ini tidak mendapat kritikan yang keras dari yang semestinya. Kendati demikian, bukan berarti bahwa berbagai  pemaparan yang tersaji dalam tulisan ini dianyam pada rajutan dan nuansa Anti-Kritik, melainkan untuk mengingatkan bahwa “mendongengkan” Sosial Budaya Masyarakat Alaskokon bukanlah hal yang mudah. Sebab, yang  menjadi al-mukhatab bukanlah keledai dungu, melainkan sosok yang berupa animale rationale. Ini tentu berlaku pada siapa saja, kecuali jika ANDA merupakan bagian dari para keledai dungu itu.
Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam budaya terkandung dalam serangkian nilai sosial, pandangan hidup, cita-cita pengetahuan dan keyakinan serta aturan-aturaan yang saling berkaitan sehingga terbentuk satu kesatuan yang bulat. Fungsinya merupakan pedoman tertinggi dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan masyarakat.
Dalam tradisi masyarakat Alaskokon masih menjalankan tradisi-tradisi yang mereka warisi dari generasi kegenerasi dan dipertahankan hingga sekarang. Wujud dari implikasi ini bisa dilihat dari kehidupan keseharian maupun dari kegiatan-kegiatan yang mereka laksanakan bersama.
Sosial budaya masyarakat Alaskokon
Masyarakat madura dikenal memiliki karakter yang keras, namun sangat religius yang membuat perilaku budaya masyarakatnya tidak jauh dengan nilai-nilai agama yang telah dianut oleh leluhur mereka secara turun menurun. Masyarakat madura juga terkenal dengan perilakunya yang sopan, saling hormat dan saling membantu sehingga tercipta kehidupan yang harmonis.
Dapat di amati pola kebudayaan masyarakat di Desa Alaskokon  yang dari dulu sampai sekarang masih ada didesa tersebut. Pola kehidupan sosial masyarakat Desa Alaskokon sangat erat. Seperti ketika sebuah keluarga tertimpa musibah, salah satu keluarganya meninggal dunia. Maka tanpa adanya sosialisasi pun mereka dengan sendirinya ikut merasakan kesedihan keluarga tersebut atau ikut simpati. Bukti autentik hal tersebut adanya tahlilan selama 7 hari, setelah tahlilan ada pengajian bersama selama 40 hari, biasanya untuk pengajian tersebut hanya dilakukan oleh sebagian masyarakat yang mampu.
Hal seperti itulah merupakan wujud konkrit kepedulian masyarakat satu sama lain.sampai sekarangpun hal tersebut masih berlaku di Desa Labang.Tidak hanya itusaja yang ditunjukkan oleh masyarakat Labang, tidak hanya rasa simpati yang ditunjukkan oleh masyarakat, namun dalam aspek lainpun juga demikian, seperti acara Pernikahan, para pemuda-pemudi banyak berdatangan, biasanya H-2 sebelum acara, bergotong royong pada saat pembangunan terop dengan penuh ikhlas tanpa dimintai pertolongan mereka akan membantu dengan ikhlas. Baik tenaga maupun pikiran.
Ada beberapa bentuk kegiatan sosial yang berjalan di kehidupan masyarakat desa labang, antara lain :
1.      Pengajian Muslimat
Kelompok pengajian yang di domisili ibu-ibu ini berlangsung setiap malam jum’at. Dan lokasi pengajian ini selalu berpindah-pindah sesuai undian setiap seusai pengajian. Pengajian ini ditekankan pada sholawatan.
2.     Kuliah Subuh
Pengajian umum yang dilaksanakan setiap hari selasa subuh mulai pukul 04.30 sampai selesai. Lokasi bertempat di Masjid Al-Mubarrak Alaskokon dan dipimpin langsung oleh Kepala Yayasan Mahdiyyin Kyai H. Sulaha S. Ag
3.     Pengajian KAR NU
Pengajian setiap malam senin dan pelaksanaannya setiap bulan sekali. Lokasi sesuai dengan undian. Tetapi hanya di sekitar dusun Nangger dan dusun Alaskokon. Pengajian ini dibina langsung oleh Kyai Abdurohman.
4.     Pengajian
Pengajian dilaksanakan satu bulan sekali di dusun Tengginah setiap malam senin. Dari pukul 19.00 sampai selesai. Pengajian ini dipimpin langsung oleh Kyai H. Abdulah Khon Tabroni.
5.     Adat Pernikahan
Setiap keluarga selalu mempunyai cara untuk merayakan kebahagiaannya sendiri-sendiri. Tetapi di desa Alaskokon mempunyai ciri khas yang berbeda dengan desa lain. Setiap perayaan selalu atau harus ada pengajian dan banjari. Pengajian dalam satu malam ini di isi dengan minimal 3 kyai, dari pukul 21.00 sampai selesai. Dan banjari dimainkan hanya untuk menarik atau mengundang penonton.

Sosial Ekonomi Desa Alaskokon
Oleh Madiah dp

Sosial ekonomi ialah suatu kondisi nyata yang sedang terjadi di dalam masyarakat desa jika dipandang dari segi perekonomian. Konsep ekonomi memang sangat lekat dengan 3 proses umum yaitu: produksi, distribusi dan konsumsi.
Salah satu fungsi utama sosial ekonomi masyarakat pedesaan di Indonesia adalah melakukan berbagai kegiatan  produksi, terutama di sektor pertanian, peternakan dan  perikanan dengan orientasi produksinya untuk memenuhi kebutuhan pasar baik di tingkat desa  itu sendiri atau ditingkat lain yang lebih luas. Dengan demikian mudahlah dimengerti, apabila sebagian besar masyarakat desa melakukan kegiatan utamanya dalam kegiatan pengelolahan dan pemanfaatan lahan pertanian.
Karena fungsi sosial ekonomi utama masyarakat pedesaan seperti hal di atas, maka sumber daya fisik utama yang paling penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan tersebut adalah tanah untuk lahan pertanian.
Namun untuk mempermudah anda memahami kondisi sosial ekonomi desa Alaskokon maka sangat  urgent bagi kami untuk menyertakan ulasan mengenai pekerjaan masyarakat, angkatan kerja, hingga strata sosial masyarakat Labang.

Kehidupan Masyarakat Desa Alaskokon
Oleh Madiah Dp

Menurut pengamatan kami dari KKN 17, yang bertempat di Desa Alaskokon, Kecamatan Modung, Bangkalan. Bahwa sebenarnya Desa Alaskokon mempunyai beberapa hasil bumi yang belum mampu diupayakan atau diolah secara maximal.
Dalam musim kemarau banyak ladang yang kosong karena tidak ada sumber air yang cukup. Mayoritas masyarakat Alaskokon ketika musim penghujan bermata pencaharian sebagai petani, selepas dari musim penghujan masyarakat Alaskokon tidak lagi bertani, melainkan mencari mata pencaharian lain seperti berternak sapi ataupun kambing yang dijual di Pasar kecil Glisgis dan Tanah Merah.
Sebenarnya terdapat beberapa potensi alam yang belum diolah secara maximal di Desa Alaskokon. Salah satunya adalah jagung. Jika panen datang, masyarakat lebih banyak menyimpan jagung untuk keperluan pribadi dan tidak dijual di pasar. Dan disini kami dari kelompok KKN 17, mencoba untuk mengoptimalkan potensi alam yang ada, seperti membuat dodol jagung, kerajinan kulit jagung, dan pupuk kompos batang jagung.
Masyarakat Desa Alaskokon kental nuansa keagamaanya yang khas Madura dan tetap memegang erat nilai-nilai adat yang ada, masyarakat Desa Alaskokon sangat menjunjung tinggi norma dan nilai yang ada sejak pendahulunya, etika menjadi tolak ukur baik-buruk dan identitas Desa-Kota.
Masyarakat Desa Alaskokon juga mengutamakan musyawarah mufakat dalam mencari solusi jika ada permasalahan. Alhamdulillah kedatangan kami disambut dan dijamu dengan baik oleh masyarakat Desa Alaskokon, kami juga selalu dipandu oleh aparatur Desa Alaskokon. Kami benar-benar masuk dalam kehidupan bermasyarakat yang ada di Desa Alaskokon.

0 komentar:

Posting Komentar